Manusia dan Palang Perlintasan Kereta

Seperti ada hubungan khusus yang saling menyakiti antara mereka berdua, tidak ada manusia yang menyukai palang perlintasan kereta, dan tidak ada perlintasan kereta yang acuh dengan keberadaan manusia di depannya, palang perlintasan kereta terus berbunyi dan menutup, dan manusia hanya berdeham dan menyabarkan diri untuk menunggunya terbuka kembali.

Apakah manusia tidak sadar pentingnya palang tersebut diciptakan, suara berisik dan kayu panjang melintang, sebagai pemberitahuan dan pengaman mereka dari besi pejal dingin yang melintas dengan kencang, benda yang juga kita kenal sebagai kereta dan rentetan gerbongnya.

Tetapi manusia sering bersikap menantang, suara palang perlintasan kereta terdengar seperti panggilan merdu yang akan menambah nyali mereka untuk mempercepat kendaraan melintasi palang tersebut sebelum benar benar menutup, kecepatan dan skill menghindari palang tersebut adalah hal yang membanggakan buat mereka.

Beberapa manusia bahkan bertindak lebih dari itu, palang pintu yang sudah menutup bagaikan barrier gate penghalang antara mereka dan dunia luas, mereka memaksa membuka dan melintas tanpa peduli bahwa seinchi atau pun bahkan satu milimeter lagi, kereta tanpa perasaan akan melibas habis apapun yang lewat di depannya.

Yang sangat konyol, apabila mereka berhasil melewatinya, mereka tetap pada akhirnya berhenti, syukur syukur kalo berhenti dipinggir rel karena masih ada rasa takut dan grogi dengan libasan kereta yang melewatinya, tetapi apabila mereka terpaksa hanya bisa termangu di tengah rel kereta sambil menunggu.

Tetapi itu juga adalah bagian dari kehidupan sosial bermasyarakat di kota kota padat penduduk, seperti konsistensi majemuk yang membuat manusia yang sabar menunggu palang pintu menutup terus mendapat teguran (baca: klakson kencang dan terus menerus) dari manusia lain yang berjarak ratusan meter dibelakangnya, menimbulkan dilema untuk terus maju atau tetap mendengarkan seringai nyaring mengerikan itu.

Apakah mereka tidak berpikir, perasaan manusia lain, manusia yang sebagai penumpang dari kereta besi yang mungkin harus menunda kebahagiaan untuk bertemu keluarga tercinta, atau menambah kesedihan karena kehilangan moment melepas kepergian manusia terkasihnya, atau perasaan manusia lain yang oleh sesamanya di sebut sebagai kondektur, manusia yang harus bertanggung jawab atas kesalahan yang sama sekali tidak layak untuk terjadi.

Manusia adalah mahluk yang mudah beradaptasi dengan kondisi sekitar, yang perlu dipertanyakan adalah seandainya besok seluruh kendaraan pribadi bisa terbang, apakah manusia akan dengan sengaja menabrak burung burung yang bahkan tidak mengganggu mereka?, atau apabila seluruh kendaraan pribadi dapat menyelam di air, apakah manusia akan mengikatkan jaring di belakang kendaraannya untuk menangkap lumba lumba hidung botol?.

Konflik of interest antara palang pintu kereta api dan manusia, adalah pelajaran untuk saling menghargai dan saling menghormati kepentingan masing masing, adanya kesadaran atas hal tersebut, manusia akan mendapatkan salah satu pencapaian Pancasila sebagai Manusia yang Adil dan Beradab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.