Jakarta Dikala Malam

Kebetulan malam ini adalah malam malam yang sama dengan tiap malam yang saya lalui… (terus apa kebetulannya???), tetapi entah kenapa malam ini seperti berbeda…

Pukul setengah delapan malam, dengan sedikit perlahan sepeda motor saya meluncur keluar dari parkiran kantor menuju jalan raya yang masih cukup ramai, dengan maraknya pembangunan jalan tol beberapa tahun belakangan ini, memaksa saya untuk berbelok mencari jalan alternatif.

Seperti biasa saya melalui jalan itu, jalan di pinggir sungai, jalan yang selama ini sudah saya lalui beratus ratus kali, tapi ada yang berbeda dengan malam ini, fokus saya tersedot ketika melewati jalan itu.

Iklan

Saat saya masuk di gerbang jalan itu, tiba tiba saja terdengar suara riuh anak kecil yang sedang bermain, memainkan permainan yang hanya di mengerti oleh imajinasi mereka, tawa riuh itu berhasil menyedot pikiran saya menjadi fokus melihat keadaan sekitar.

Apabila dilihat sekeliling, dengan jelas terlihat kawasan itu penuh dengan rumah rumah kecil yang dipaksa untuk berdesakan dan setengah hati saling berpegangan satu sama lain, saling menjaga agar tidak rubuh ataupun terjerembab ke pinggiran sungai yang dangkal.

Di depannya terlihat anak anak muda yang sedang nongkrong untuk bermain gitar, serta para orang dewasa yang mengobrol sesamanya entah apa yang dibicarakan, mungkin politik, kondisi ekonomi atau mungkin suara tetangga sebelahnya yang terdengar semalam karena hanya berbatasan dengan tembok yang tipis.

Wajah riang dan senyum dari warga penghuni jalan itu, yang sangat kontras dengan kondisi tempat tinggalnya, rumah petak satu ruangan multi fungsi, sebagai ruang tamu, ruang makan, dapur, bahkan tidurpun mereka disitu, membuat saya berpikir dan berteori, mengapa mereka bisa seperti itu.

Sepanjang perjalanan saya berpikir, apakah mungkin karena mereka tidak tahu?, tidak tahu nyamannya tidur di hotel yang mewah, tidak tahu rasanya tinggal di rumah yang luas, tidak tahu rasanya selfi dan narsis di instagram, bahkan mungkin mereka tidak tahu rasanya kecanduan gadget.

Atau mereka sebenarnya tahu tetapi memilih untuk tidak tahu, memilih untuk mensyukuri nikmat yang mereka punya, dan terus melakukan rutinitas yang ada sambil terus tersenyum dan menatap masa depan yang mungkin tetap seperti itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.